Minggu, 04 April 2010

Sifat Kebenaran Pengetahuan

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap mahkluk sosial dengan segala kemampuan dan aktivitas kian harinya seperti yang dirasakan penting tentang pendidikan, apalagi tentang filsafat ilmu itu harus tahu, memang filsafat hanya ada di perguruan tinggi saja, tetapi walaupun demikian tidak kalah penting dan hebatnya seperti yang lain.


B. TUJUAN
Adapun tujuan makalah ini agar mahasiswa dapat mengerti tentang filsafat ilmu yang telah disusun yaitu untuk menumbuhkan minat mahasiswa agar lebih memperdalam lagi dan untuk mengetahui pendidikan tentang filsafat ilmu.

C. MANFAAT
Manfaatnya dari makalah ini agar mahasiswa dapat menggali sumber pengetahuan dari luar dan dapat berpikir secara kritis yang mana mahasiswa mengetahui tentang filsafat ilmu itu dan dapat memecahkan masalah serta dapat mengevaluasi sampai dimana kemampuan mahasiswa dalam berpikir, dalam penulisan makalah ini menggunakan beberapa buku sumber yang ada. Dan semoga makalah ini dapat mengetahui betapa besar dan pentingnya ilmu pengetahuan tentang filsafat ilmu lebih jauh lagi.


BAB II
PENEMUAN KEBENARAN DAN SARAN BERPIKIR ILMIAH

Di dalam masyarakat sering dijumpai orang-orang yang dianggap “tahu” dan memiliki kemampuan menyelesaikan berbagai masalah misalnya: masalah X. andaikan di antara orang-orang itu ada yang bernama Si-A dan Si-B. ternyata kemampuan Si-A dan Si-B dalam menyelesaikan masalah X tersebut tidak sama. Perbedaannya terletak pada cara memecahkannya. Demikianlah, mereka berdua telah berusaha menemukan kebenaran.

Cara untuk menemukan kebenaran berbeda-beda. Kiranya cara itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: cara penemuan kebenaran yang non ilmiah dan cara penemuan yang ilmiah.

A. CARA PENEMUAN KEBENARAN NON ILMIAH
Upaya untuk menemukan kebenaran yang nonilmiah dapat terlaksana dengan berbagai cara, di antaranya ialah:
1. PenemuanSecara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan adalah penemuan yang berlangsung disengaja. Dalam sejarah manusia, penemuan secara kebetulan itu banyak juga yang berguna walaupun terjadinya tidak dengan cara yang ilmiah, tidak disengaja, dan tanpa rencana. Cara ini tidak dapat diterima dalam metode untuk menggali pengetahuan atau ilmu.
2. Penemuan “coba dan ralat” (trial and error)
Penemuan “coba dan ralat” terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari itu. Memang ada aktivitas mencari kebenaran, tetapi aktivitas itu mengandung unsur spekulatif atau “untung-untungan”. Penemuan dengan cara ini kerap kali memerlukan waktu yang lama, karena memang tanpa rencana, tidak terarah, dan tidak diketahui tujuannya. Cara “coba dan ralat” ini pun tidak dapat diterima sebagai cara ilmiah dalam usaha untuk mengungkapkan kebenaran.
3. Penemuan melalui otoritas atau kewibawaan
Pendapat orang-orang yang memiliki kewibawaan, misalnya: orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan sering diterima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu tidak didasarkan pada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada gunanya. Pendapat itu tetap berguna, terutama dalam merangsang usaha penemuan baru bagi orang-orang yang menyangsikannya.. namun demikian ada kalanya pendapat itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Dengan demikian pendapat pemegang otoritas itu bukanlah pendapat yang berasal dari penelitian, melainkan hanya berdasarkan pemikiran yang diwarnai oleh subjektivitas.

4. Penemuan Secara Spekulatif
Cara ini mirip dengan cara coba dan ralat. Tetapi perbedaannya dengan coba dan ralat memang ada. Seseorang yang menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan pada penemuan secara spekulatif, mungkin sekali ia membuat sejumlah alternatif pemecahan kemudian ia mungkin memilih satu alternatif pemecahan, sekalipun ia tidak yakin benar mengenai keberhasilannya. Ia berspekulasi atas kemungkinan yang dipilihnya itu dengan dipandu oleh “kira-kira”. Bagi seseorang yang memiliki pandangan yang tajam, boleh jadi alternatif itu dapat menunjukkan adanya kebenaran yang dicapai melalui spekulasi itu. Meskipun begitu, spekulasi tersebut belum juga memberikan kepastian akan berhasilnya ditemukan kebenaran. Oleh karena itu, kemungkinan gagal akan lebih besar daripada berhasil.

5. Penemuan Kebenaran Lewat Cara Berpikir Kritis dan Rasional
Telah banyak kebenaran yang dicapai oleh manusia sebagai hasil upayanya menggunakan kemampuan berpikirnya. Dalam menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki untuk sampai pada pemecahan yang tepat. Cara berpikir yang ditempuh untuk sampai pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah ialah dengan (a) cara berpikir analitik dan (b) cara berpikir sintetik.
a) Cara Berpikir Analitik
Cara berpikir analitik ialah cara berpikir deduktif. Untuk mencapai pengetahuan yang benar, cara deduktif menggunakan silogisme sebagai alat. Silogisme ialah suatu argumentasi yang terdiri dari tiga buah proposisi atau pernyataan yang membenarkan atau menolak suatu perkara. Dua proposisi yang ketiga disebut Simpulan atau Konklusi. Konklusi pada dasarnya merupakan konsekuensi dari kedua premis yang terdahulu.
Beberapa jenis silogisme beserta contohnya adalah sebagai berikut :
 Silogisme Kategorik Semua manusia bakal mengalami mati (premis mayor)Seniman adalah manusia (premis minor)Jadi seniman bakal mengalami mati (konklusi)Dengan ringkas silogisme tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut
 Silogisme kategorik: Semua P adalah Q
 P1 adalah P
 Jadi: P1 adalah Q

b) Silogisme Kondisional (bersyarat)
Jika sandiwara itu dipentaskan di lapangan terbuka, penontonnya berlimpah. Sandiwara itu di lapangan terbuka. Jadi penontonnya berlimpah.Ringkasnya adalah sebagai berikutSilogisme KondisionalJika P dalam keadaan Q, maka akan terjadi R. P1 sekarang dalam keadaan Q.
Jadi: P1 akan mengalami R.

c) Silogisme Pilihan (alternatif)
Harun akan menikah setelah tamat atau kembali ke kampung. Setelah tamat Harun menikah. Jadi Harun tidak kembali ke kampung.
Ringkasnya adalah sebagai berikut: Silogisme Alternatif: P harus memilih Q atau R. (Q dan R tidak terjadi serempak) P1 memilih R
Jadi P1 tidak mungkin memilih Q.
 Silogisme Disjungtif (melerai)
 Bagi seorang mahasiswa, baik yang belajar tekun maupun yang tidak belajar sama sekali, tidaklah mungkin begitu saja mendapat nilai yang terbagus.
 Ada seorang mahasiswa yang sama sekali tidak belajar.
 Jadi tidak mungkin begitu saja ia mendapat nilai yang terbagus.
Singkatnya ialah sebagai berikut:
Silogisme Disjungtif: Tidak mungkin P yang sedang dalam keadaan R bakal menjadi Q. P dalam keadaan R. Jadi tidak mungkin P bakal menjadi Q.

d) Cara Berpikir Sintetik
Cara berpikir sintetik adalah cara berpikir induktif yang simpulannya diharapkan berlaku umum untuk kelompok/jenis, dan peristiwa atau yang diharapkan agar kasus yang bersifat khusus atau individual masuk ke dalam wilayah kelompok/jenis yang dikenai simpulan.
Di bawah ini dikemukakan cara berpikir jenis induksi.
 Induksi Komplet
 P1 penduduk desa A, adalah petani
 Qi penduduk desa A, adalah petani.
 R1 penduduk desa A, adalah petani.
 S1 penduduk desa A, adalah petani.
 Y1 penduduk desa A, adalah petani.
 Z1 penduduk desa A, adalah petani.
Jadi semua penduduk (P sampai Z) yang mendiami desa A, adalah petani.
Gambar 1
Cara Berpikir Induksi Komplet
e) Induksi Sistem Bacon
Francis Bacon, ahli empirisme, dengan tegas menolak cara berpikir deduksi. Ia menganjurkan agar dalam usaha menarik simpulan yang berlaku umum, orang hendaknya bertolak dari hasil observasi untuk menentukan ciri-ciri gejala yang dihadapinya. Ia mengemukakan bahwa ada tiga jenis pencatatan ciri sebagai berikut:
 Pencatatan ciri positif, yaitu pencatatan terhadap peristiwa yang kondisinya dapat dipastikan menimbulkan gejala;
 Pencatatan ciri negatif, yaitu pencatatan terhadap peristiwa yang kondisinya tidak memunculkan gejala; dan
 (c) Pencatatan variasi gejala, yaitu pencatatan mengenai ada atau tidak adanya perubahan gejala pada kondisi yang berubah-ubah atau diubah-ubah.







BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Penemuan Kebenaran dan Sarana Berpikir Ilmiah
Penemuan kebenaran secara kebetulan adalah penemuan yang berlangsung tanpa di sengaja oleh orang lain maupun oleh kita sendiri, kebetulan itu banyak juga yang berguna walaupun terjadinya tidak secara ilmiah.adapun penemuan kebenaran yang lainnya terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari itu. Memang mencari kebenaran itu berbeda-beda kiranya cara itu dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu cara penemuan kebenaran yang non ilmiah dan cara penemuan yang ilmiah, tetapi di sini mempelajari cara penemuan kebenaran yang non ilmiah.

B. SARAN
Terima kasih banyak atas kepercayaannya kepada saya untuk tugas makalah ini dengan baik sesuai yang diinginkan jika ada kata-kata penulisan yang kurang tepat, saya sebagai penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan penulis mohon minta saran dan kritiknya supaya makalah ini lebih baik lagi, karena manusia punya kekurangan dan kelebihan, sekali lagi terima kasih banyak.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More